Sunan Gosong, Legenda Wali Yang Punya 4 Kuburan di Tanah Jawa

Makam Sunan Geseng di Tuban

Sunan Geseng atau Sunan Gosong adalah salah satu wali penyebar Islam di tanah Jawa. Yang menarik, makam Sunan Gosong ini ada di banyak tempat. Tercatat ada 4 makam yang telah populer dan menjadi tujuan ziarah, serta ada 3 makam yang baru saja diklaim juga makam Sunan Geseng. Nama Sunan Geseng juga banyak dijadikan nama Pondok Pesantren dan Madrasah, ini menunjukkan betapa populernya Sunan yang satu ini.

Berikut ini adalah 4 makam Sunan Geseng yang telah populer:
1. Bantul, Jogjakarta
2. Magelang, Jawa Tengah
3. Tuban Jawa Timur
4. Kediri Jawa Timur
Di Keempat makam Sunan Geseng tersebut, kisah legenda tentang sosok yang dikuburkan di dalamnya adalah tokoh dengan nama yang sama, yaitu Cakrajaya.

Bahwa Sunan Geseng, atau sering pula disebut Eyang Cakrajaya atau Ki Cokrojoyo adalah murid Sunan Kalijaga.

Ada dua versi sislsilah Sunan Geseng,
versi pertama dia adalah ahlul bait keturunan Nabi Muhammad. 
Dengan nasab: Sunan Geseng bin Husain bin al-Wahdi bin Hasan bin Askar bin Muhammad bin Husein bin Askib bin Mohammad Wahid bin Hasan bin Asir bin 'Al bin Ahmad bin Mosrir bin Jazar bin Musa bin Hajr bin Ja'far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

Versi kedua,
Dia keturunan Prabu Brawijaya
Berdasarkan silsilah Jawa Raden Mas Cokrojoyo adalah keturunan Prabu Brawijaya dengan Dewi Rengganis, yang melahirkan Raden Rara Rengganis II. Kemudian Ki Ageng Pakotesan menikah dengan Raden Rara Rengganis II melahirkan Pangeran Semono atau sering disebut Pangeran Muryo. Dari hasil pernikahan Pangeran Semono inilah lahir Raden Mas Cokrojoyo
Tempat pertapaan yang diyakini tempat gosongnya Sunan Geseng di Magelang


Kisah Cakrajaya mendapatkan gelar Geseng atau Gosong.

Di keempat makam tersebut, asal usul gelar Sunan Geseng atau Gosong juga sama. Awalnya Cakrajaya adalah seorang penderes air nira atau sari siwalan. 

Saat menderes dia biasanya sambil bersenandung 

“Lilo-lilo … lilo-lilo … lilo-lilo …”

Dia tidak menyadari bila dibawahnya ada Sunan Kalijaga yang sedang melintas lewat. Dia terpesona dengan nyanyian Cakrajaya dan memutuskan untuk duduk beristirahat di bawah pohon sambil mendengarkanya

Lilo-lilo… itu artinya apa kisanak?", tanya kanjeng Sunan saat Cakrajaya turun

“Alaah, Kisanak, tiap hari aku bekerja seperti ini, sebagai buruh pen-deres siwalan. Agar hidup yang susah ini tidak terasa susahnya, ya tak lilo-lilo (Ya disabar-sabarkan, menyabarkan diri)”.

“Bisakah diganti dengan yang lebih baik, Kek?”.

“Diganti yang bagaimana, Kisanak ?”

Laa ilaaha illallah”.

Cakrajaya menurut, saat menderes pohon satunya sambil membaca kalimat itu. Dia sangat kaget karena buah siwalan tiba-tiba berubah jadi emas. Dia segera mencari Sunan Kalijaga dan meminta agar diterima jadi muridnya.

Atas perintah Sunan Kalijaga sebagai syarat untuk menjadi muridnya, Cakrajaya diminta untuk mengasingkan diri di dalam hutan untuk konsentrasi beribadah kepada Allah.

Dalam pertapaanya itu yang diisi dengan amalan terus berdzikir La Ilaaha ilallah, hingga suatu hari hutan tersebut terbakar, tetapi ia tidak mau keluar dari hutan dan tetap duduk sambil melanjutkan amalanya. Cakrajaya ingin mematuhi perintah gurunya apapun rintanganya sampai ada perintah dari Sunan Kalijaga untuk berhenti. Dia tetap ditempatnya sampai api padam.

Setelah api padam, Sunan Kalijaga yang mendapat kabar tersebut segera datang ke hutan itu mencari muridnya. Lalu mendapatinya masih hidup dan selamat namun dengan kulit yang sudah gosong. Dia pun dinyatakan lulus ujian dan diperintahkan kanjeng sunan untuk berdakwah.

Makam Sunan Geseng di Kediri
Kisah berbeda ada di Kediri tentang sebab musabab gosongnya Cakrajaya.
Disebutkan setelah satu tahun menyuruh Cakrajaya bertapa dalam hutan, Sunan Kalijaga berniat menjengkutnya. Namun hutan yang digunakan bertapa telah menjadi hutan alang-alang. Untuk bisa masuk ke dalam hutan, Sunan Kalijaga membakar habis alang-alang tersebut dan barulah tampak Ki Cokrojoyo masih dalam kondisi bertapa dan namun kondisinya gosong dan masih hidup sehat wal afiat.

Kanjeng Sunan Kalijogo lalu membangunkanya dengan mengucapkan salam begitu bangun, Cakrajaya langsung sungkem ( sujud ) terhadap Gurunya, setelah itu Kanjeng Sunan Kalijogo memerintahkan untuk mandi dan menyuruh pulang menemui keluarganya, setelah ketemu keluarga diceritakannya segala kejadian pada istrinya dan anaknya. Istri dan anak ikut bersyukur kehadirat Allah atas diselamatkannya Ki Cokrojoyo atas bimbingan Kanjeng Sunan Kalijogo.


Tradisi di Makan Sunan Geseng

4 makam Sunan Gosong selalu ramai oleh peziarah. Masing-masing memiliki tradisi sendiri untuk perayaanya.

Di Jogjakarta, setiap tahun ada perayaan dari warga setempat untuk menghormati Sunan Geseng. Selain di  Jolosutro, Srimulyo, Piyungan, Bantul, DI Yogyakarta, Jogjakarta

Di Magelang, di Desa Tirto, Kecamatan Grabag di Kaki gunung Andong. Pada Bulan Ramadhan, pada hari ke-20 malam masyarakat banyak yang berkumpul di sekitar makam untuk bermunajat.

Di Kediri, Jawa Timur. Lokasi makam Sunan Geseng berdekatan dengan situs Dewi Kilisuci. Pada Bulan Muharom ( suro ), melakukan barokahan amaliyah Dzikrurrohmah dan membaca Sholawat Nabi 1000 kali, secara berjama’ah selama 40 malam yang dilakukan di Aula Sunan Geseng, Kediri. Setelah mencapai hari ke – 40 diadakan khataman dengan bersedekah 40 tumpeng komplit yang pada acara itu untuk memuliakan para tamu, santri, dan kalangan pejabat, ulama, kyai dan masyarakat luas dengan makan bersama, yang juga dihibur dengan musik jemblung dengan lantunan puji-pujian sholawat Nabi, serta diadakan pengajian, untuk menambah khasanah tentang agama Islam, sebagai agama Rohmatan Lil’alamin.

Di Tuban, tidak hari khusus untuk merayakan sesuatu di makam Sunan Geseng. Namun masyarakat telah menjadikan makam Sunan Geseng destinasi wisata ziarah yang utama setelah sunan Bonang. 

Penutup

Di manakah makam Sunan Geseng yang asli? apakah hanya sebuah legenda atau fabel cerita turun temurun? 

Selain ke-4 makam di atas, juga ada klaim dari Pati, Temanggung dan Kulonprogo jika jasad Sunan Geseng juga dimakamkan di wilayah tersebut. Perhatikan google maps berikut ini, makam Sunan Geseng ada dimana-mana
Selain makam, nama Sunan Geseng juga diabadikan menjadi nama Pondok Pesantren dan Madrasah. 


Yang pasti, inilah satu-satunya Sunan yang punya empat makam bahkan mungkin lebih dengan kisah dan tokoh yang sama. Nama Sunan Geseng juga diabadikan dalam bentuk Pondok Pesantren dan madrasah, ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh nama beliau dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa. 

Hanya sayangnya, beliau tidak termasuk dalam Wali Songo.

0 Response to "Sunan Gosong, Legenda Wali Yang Punya 4 Kuburan di Tanah Jawa"

Posting Komentar