Awuwukha Kepala Suku Nias Pengoleksi Kepala Manusia



Awuwukha yang pernah amat perkasa itu terbaring tak berdaya. Bayangan liang lahat sudah tergambar sangat dekat seiring usianya yang semakin renta. Sebelum ajal menjemput, Awuwukha berucap wasiat kepada anak-anaknya yang siap menjalankan apapun permintaan terakhir sang ayah.


Mantan salah satu orang terkuat di Pulau Nias itu berpesan, jika mati nanti, ia minta ditemani 5 orang. Seorang untuk menyiapkan minuman, 1 orang membuat sirih pinang, 1 orang meladeni makanan, 1 orang untuk menjaga, dan 1 orang lagi sebagai tukang pijat (Jajang A. Sonjaya, Melacak Batu Menguak Mitos Petualangan Antarbudaya di Nias, 2008).

Usai berwasiat, Awuwukha mengerik kuku jempolnya dengan pisau sebagai penegas bahwa titah sudah ditetapkan. Dengan kata lain, anak-anak Awuwukha wajib memenuhi pesan penghabisan itu. Artinya, mereka harus memburu 5 kepala manusia untuk menemani sang ayah ke alam selanjutnya.
Praktik memburu kepala itulah yang disebut dengan istilah mangai binu, tradisi berburu kepala manusia yang cukup akrab dalam kehidupan masyarakat Nias tempo dulu.

Legenda Awuwukha yang Perkasa
Nama Awuwukha terlanjur lekat setiap kali membahas sejarah Nias. Bahkan, bermula dari nama orang, Awuwukha kemudian menjadi gelar kehormatan. Masyarakat Nias memang punya tradisi menyematkan gelar sesuai dengan karakter paling menonjol dari seseorang (Suhadi Hadiwinoto, Nias: Dari Masa Lalu ke Masa Depan, 2008).

Salah satunya adalah Awuwukha, gelar bagi orang yang telah melakukan owasa (upacara besar untuk meningkatkan status sosial seseorang) dalam tingkatan lebih tinggi.
Ketut Wiradnyana (2010) dalam Legitimasi Kekuasaan pada Budaya Nias menuliskan Awuwukha memiliki arti “jurang yang dalam”, makna yang menyiratkan sosok tangguh dan tidak mudah dikalahkan.

Dengan demikian, gelar Awuwukha disematkan kepada orang yang diakui paling kuat, perkasa, dan digdaya. Sebagai ukuran pemberian gelar itu adalah banyaknya kepala manusia yang pernah dipenggal oleh yang bersangkutan. Dan Awuwukha adalah emali alias penjagal terbaik pada masanya.

Dikisahkan, Awuwukha yang tinggal di sebuah desa bernama Boronadu (sekarang termasuk wilayah Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara) adalah pencetus tradisi mangai binu di Pulau Nias.
mangai binu sering pula disebut dengan istilah lokal lainnya, seperti möi ba danö, mofanö ba danö, mangai högö, atau möi emali. Kata emali disematkan kepada orang yang berperan sebagai pemburu kepala manusia macam Awuwukha.

Bukan tanpa sebab Awuwukha menjelma menjadi penjagal kelas kakap. Apa yang dilakukan Awuwukha itu bermula dari dendam lantaran ibu dan 7 saudaranya dibakar hidup-hidup di kediaman mereka oleh sekelompok orang dari desa lain. Para pengacau itu juga membakar lumbung padi milik Laimba, orang yang paling dihormati di desa.

Awuwukha yang datang terlambat dan melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa rumahnya telah terbakar bersama dengan keluarganya tentu saja murka besar. Ia pun bersumpah akan menuntut balas terhadap orang-orang yang telah melakukan perbuatan itu (Sonjaya, 2008).

Beberapa hari berselang, Awuwukha pulang. Langkahnya tenang lagi mantap, dengan raut muka yang mengesankan kepuasan. Ia memanggul sebuah karung yang ternyata berisi penggalan belasan kepala manusia, kepala orang-orang yang membakar rumah dan membunuh keluarganya, sekaligus mempermalukan warga desanya.

Sejak itulah, mangai binu atau perburuan kepala mulai berlaku karena apa yang telah dilakukan Awuwukha ternyata berlanjut. Musuh-musuhnya semakin banyak karena ingin membalas dendam. Namun, Awuwukha tak terkalahkan hingga menutup mata karena dimakan usia. Nama Awuwukha pun menjadi legenda, sekaligus diabadikan sebagai gelar yang diberikan untuk orang-orang sepertinya.

Sebagai Lambang Kedigdayaan
Tradisi memburu kepala manusia setidaknya berhasil membuat orang-orang asing berpikir seribu kali jika ingin mengusik masyarakat Nias. Stefan Anitei (2007) dalam The Island of the Head Hunters menceritakan, nyali para saudagar dari Arab ciut begitu mendengar kebiasaan aneh ini sehingga mereka lari tunggang-langgang meninggalkan daratan Nias dan kembali ke kapalnya.

Tradisi berburu kepala mulai memudar seiring masuknya misionaris Kristen ke wilayah Pulau Nias pada awal abad ke-20, kebanyakan berasal dari Jerman, ada juga orang Belanda. Para zending ini bisa diterima oleh orang Nias karena tidak menunjukkan kesan kekerasan serta mengenalkan hal-hal baru yang membuat warga lokal tertarik.

Sumber: tirto.co.id

0 Response to "Awuwukha Kepala Suku Nias Pengoleksi Kepala Manusia "

Posting Komentar