Batu Bisa Berjalan di Makam Permaisuri dan Putra Mahkota Jogjakarta di Manado



Ada cerita warga berbau mistis di sekitar kompleks makam keramat Kanjeng Ratu Sekar Kedaton yang terletak di tengah-tengah Tempat Pemakaman Umum (TPU) muslim Mahakeret Timur, Manado, Sulawesi Utara. Terdapat sebuah batu 15 sentimeter yang sebagian badanya tertanam di dalam tanah namun sering berpindah posisi.

"Setiap minggu batu ini berpindah tempat. Kalau enggak percaya coba datang lagi minggu depan dan lihat posisinya di mana," ujar Anas Kasim, warga sekitar lokasi makam keramat sambil menunjuk sebuah batu yang tertutup semak dan rumput liar.

"Orang-orang yang menggali kubur di malam hari takut sekali dengan batu ini," tambah Kasim.

Diceritakannya, pernah ada yang berusaha menggali batu tersebut namun tidak berhasil. "Bagian batu yang tertanam di dalam tanah sangat besar dan tak bisa digali," ucap pria bertubuh kecil ini.

Beberapa warga yang tinggal di Kampung Kodo tak jauh dari lokasi makam permaisuri Sri Sultan Hamengkubuwono V, membenarkan perihal batu yang sering berpindah tempat tersebut. Mereka mengeramatkan dan enggan memasuki wilayah makam keluarga keraton terlebih di malam hari.

Makam siapakah itu?

Itu adalah makam permaisuri Sultan Hamengkubuwana V dan putra mahkotanya yang dibuang ke Manado karena rebutan kekuasaan di dalam keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Jogja.

Sultan Hamengkubuwon V (HBV) meninggal saat usia masih muda 35 tahun. Dia sendiri naik tahta tahun 1823 pada usia 3 tahun. Selama masih kecil, kekuasanya dijalankan oleh pamanya. Pada tahun 1826 sampai 1828 dia sempat diskorsing dari kedudukanya sebagai raja. Namun kemudian diangkat lagi menjadi raja tahun 1828 hingga wafat pada 1855 secara misterius.

Sebuah kisah menyebutkan jika dia dibunuh oleh istrinya sendiri, permaisurinya sendiri, Kanjeng Ratu Sekar Kedaton. Besar kemungkinan ini adalah kisah bohong, karena saat itu Kanjeng Ratu Sekar Kedaton sedang mengandung 9 bulan.

Kematian tiba-tiba HB V memunculkan konflik tentang siapa yang berhak menggantikanya. 
13 hari setelah kematian HB V Kanjeng Ratu Kedaton melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Pangeran Timur Muhammad dengan gelar Gusti Kanjeng Pangeran Arya Suryeng Ngalaga, dia menuntut bahwa putranya lah yang berhak menjadi raja meski baru lahir.

Klaim Ratu Kedaton ditolak oleh Gusti Raden Mas Mustojo (nantinya naik takhta bergelar Hamengkubuwana VI). Dia mengklaim bahwa seorang putra raja yang lahir setelah raja meninggal menurut adat Jawa tidak berhak atas takhta.

Raden Mas Mustojo sendiri menikah dengan putri dari Kesultanan Brunai Darussalam. Karena kedudukan istrinya dan kekayaan mertuanya, dia merasa sebagai calon paling pas menjadi Raja Yogyakarta. Dia akhirnya berhasil melobi Belanda untuk memberinya restu dan dukungan jika menobatkan diri menjadi raja.

Pemerintah Belanda kemudian mengangkatnya menjadi Sultan Hamengkubuwono VI (1855-1877). Kejanggalan dalam cara pengangkatan dan penggantian sultan ini menyebabkan timbulnya berbagai reaksi penentangan.
Potret resmi Ratu Kedaton. Foto: wikipedia

"Ambisi Ratu Sekar Kedaton dan kemudian kerabatnya, membuat RM Gusti Timur Muhammad menjadi harapan banyak orang yang berkepentingan dalam keraton Yogyakarta," kata Roger.

Berbagai upaya dilakukan Kanjeng Ratu Sekar Kedaton untuk tetap mempertahankan posisi putranya Gusti Timur Muhamad sebagai penerus takhta raja. Ia bahkan menikahkan Gusti Timur Muhamad dengan salah satu putri Sunan Pakubuwana IX dari Solo dengan harapan memperkuat sekutu dan nilai tawar anaknya.

Namun, upaya permaisuri membawa Gusti Timur Muhamad ke kursi raja tetap gagal. Belanda yang mengambil untung dalam kemelut itu kemudian menunjuk putra Sultan Hamengkubuwono VI sebagai putra mahkota pada 1872 jika dia wafat sewaktu-waktu.

Saat Sultan Hamengkubuwono VI wafat pada tahun 1877 lalu digantikan putranya dengan Hamengkubuwono VII. Ratu Kedaton masih terus berambisi menawarkan putranya Pangeran Timur sebagai Putra Mahkota.

Harapan itu sirna, saat HB VII memilih anaknya sendiri dari istri kedua yang baru berusia 10 tahun, RM Akhadiyat, diangkat sebagai putra mahkota yang kelak menggantikannya sebagai Sultan HB VIII.

Ratu Kedaton yang tak tahan ambisinya terus ditekan memilih jalan kekerasan memberontak dengan mengangkat senjata. Sayangnya, usahanya gagal dia tertangkap saat melakukan perlawanan pada 8 April 1883.

Pada 8 April 1883, Van Baak selaku perwakilan pemerintah Hindia Belanda mengirim telegram kepada Gubernur Jenderal Frederiks Jacob yang berisi permintaan untuk mengasingkan Ratu Kedaton dan Pangeran Timur Muhamad ke Manado.

Dalam pembuangan di Manado, Kanjeng Ratu Sekar Kedaton dan putranya tinggal di daerah Pondol hingga meninggal dunia. Permaisuri meninggal pada 25 Mei 1918, sedangkan Pangeran Timur meninggal pada 12 Januari 1901, pada nissan tertulis nama Gusti Kanjeng Pangeran Arya Suryeng Ngalaga, gelarnya sebagai Putra Mahkota menurut versi ibunya, Ratu Kedaton.

0 Response to "Batu Bisa Berjalan di Makam Permaisuri dan Putra Mahkota Jogjakarta di Manado"

Posting Komentar