Bung Tomo Sang Pengobar Perang Yang Menyesal Merdeka Dari Belanda



"Merdeka untuk dijajah sesama anak bangsa adalah hal yang paling menyakitkan."

Bung Tomo bernama asli Sutomo, arek Surabaya yang lewat suaranya mengobarkan perang 10 November 1945 melawan Inggris dan Belanda agar kemerdekaan bangsa Indonesia tak lagi lepas, dijajah bangsa Asing. Meskipun kemudian dia sempat menyesalinya.


Pidato heroiknya akan terus dikenang sebagai pengobar semangat bangsa ini untuk terus merdeka. Kisah heroik para pemuda yang digerakkan oleh suaranya juga akan terus abadi sebagai hari Pahlawan.

Nama besarnya juga ditulis dalam tinta sejarah karena berhasil mengalahkan Inggris, negara yang baru saja menang di Perang Dunia tapi dibuatnya menderita di Kota Surabaya.

Bung Tomo mendapat julukan "Jenderal Kancil" dari Presiden Soekarno karena kecerdikan strategi perangnya yang memang pintar. Inggris boleh saja menang dengan menguasai Kota Surabaya, namun mereka sadar, bahwa jika perang terus berlanjut mereka akan kalah, makanya mereka kemudian mundur dari Indonesia.

Di balik suara lantang Bung Tomo di setiap siaran radio yang mengobarkan semangat juang rakyat, tak banyak yang tahu ada perasaan bersalah mendalam yang dia pendam.

Setelah Indonesia merdeka, dia menyadari bahwa ternyata perjuangan kemerdekaan yang penuh darah dan nyawa ternyata malah melahirkan penjajahan model baru dari saudara sebangsa, setanah air. Saat dia mundur dari panggung politik, kata-katanya terekam abadi
"Lebih mudah menghadapi musuh orang asing daripada melawan penjajah orang sendiri"
Pascaperang 10 November 1945, di masa kabinet Burhanuddin Harahap, Bung Tomo pernah menjadi Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran sekaligus Menteri Sosial Ad Interim periode 1955-1956.

Bung Tomo juga tercatat sebagai anggota DPR pada 1956-1959 dari Partai Rakyat Indonesia (PRI), yang dikenal sangat kritis dan sering melontarkan kata-kata pedas, bahkan terhadap Bung Karno.

Dia bahkan sempat menggugat Pemerintahan Sukarno ke Pengadilan Negeri Istimewa Jakarta pada 24 Agustus 1960 atas kebijakan Pemerintah Soekarno yang telah membubarkan DPR.

Menurut Bung Tomo, pembubaran DPR itu mencederai demokrasi dan kedaulatan rakyat karena membubarkan hasil pemilu yang sah. Sayang, gugatan itu ditolak.

Sempat menghilang di panggung politik, namanya muncul lagi pada 1977 di masa Orde Baru. Bung Tomo waktu itu disebut-sebut akan menjadi calon anggota DPR dari Partai Golkar pimpinan Amir Moertono.

Tapi gaung pencalonan ini lambat laun lenyap begitu saja. Malah pada tahun berikutnya, tepatnya mulai 11 April 1978, Bung Tomo ditangkap dan dijebloskan ke Penjara Nirbaya, Pondok Gede selama setahun di masa Presiden Soeharto karena tuduhan bertindak subversif

setelah mengkritik dengan keras kebijakan Soeharto yang dianggapnya menjual kekayaan alam Indonesia untuk asing

Dia ditangkap dan dipenjara tanpa pengadilan . Gara-garanya, Bung Tomo di masa itu sering menyelipkan kritik soal pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di pidatonya.

"Kata teman-temannya, selama di Penjara Bapak suka menyendiri. Pas pengibaran bendera merah putih diiringi lagu Indonesia Raya, bapak sering terlihat mbrebes mili (mata berkaca-kaca,red)," kata Bambang Sulistomo, putra kedua Bung Tomo seperti dilansir suarasurabaya.net, Kamis (9/11/2017).

Bambang lantas mengingat, bapaknya sering menceritakan masa revolusi kepada anak-anaknya. Bagaimana dia mengobarkan semangat puluhan ribu pejuang di Surabaya untuk terjun sampai gugur di medan perang.

"Setiap cerita, Bapak selalu kelihatan gemetaran. Bapak bilang, beliau merasa berdosa mengajak puluhan ribu arek-arek Suroboyo gugur di medan perang, tapi setelah itu Indonesia ngono-ngono ae (begitu-begitu saja,red)," ujarnya.

Rasa bersalah itulah, kata Bambang, yang membuat sikap Bung Tomo selalu kritis dan keras terhadap semua bentuk kebijakan pemerintah, baik di masa kepemimpinan Bung Karno maupun Soeharto, yang menurutnya menyimpang dari kedaulatan rakyat.

"Sepertinya, sampai akhir hayatnya rasa bersalah ini terus dibawa oleh Bapak, karena kecintaannya kepada tanah air," ujar Bambang

Makam Bung Tomo di Taman Pemakaman Umum Ngagel, Kota Surabaya



Akhir hayat
Bung Tomo meninggal di Padang Arafah pada 7 Oktober 1981 saat menunaikan Ibadah Haji. Sempat dimakamkan di Padang Arafah. Namun 8 bulan kemudian, atas usaha Mantan Perdana Menteri M. Natsir melobi kerajaan Arab Saudi, jenazahnya dapat diambil untuk dimakamkan di Indonesia.

Namun setelah sampai di Indonesia pemerintah orde baru melarang jenazah beliau untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, lalu dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya.

Meski suaranya diabadikan dan diputar setiap tanggal 10 November dalam peringatan hari Pahlawan. Bung Tomo baru memperoleh gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2007, 26 tahun sesudah meninggal dunia.

Demikianlah akhir tragis hidup dari sang pengobar Perang Hari Pahlawan. Namun beliau akhirnya gugur di tempat terindah dalam keimanan seorang muslim, di Padang Arafah, yang menjadi simbol dan tempat manusia berperang melawan hawa nafsu.

Bahwa perang paling berat adalah melawan hawa nafsu. Dan beliau telah mengalahkan dua musuhnya. Para penjajah yang lari tunggang langgang dan nafsu duniawinya.

Selamat jalan pahlawan.



0 Response to "Bung Tomo Sang Pengobar Perang Yang Menyesal Merdeka Dari Belanda"

Posting Komentar