Jawanisasi Berdarah Oleh Sultan Agung

Potret Sultan Agung dalam Perangko Kantor Pos Indonesia. Sumber: Wikipedia


Meskipun mengklaim dirinya sebagai keturunan Majapahit, anak dari Brawijaya, namun Kerajaan Demak tetaplah dipandang sebagai penjajahan, kekuasaan orang asing atas tanah orang Jawa.

Setelah wafatnya Sultan Trenggana asal Demak Bintoro, yang sukses menyatukan seluruh wilayah (suku) Jawa dalam satu kerajaan Islam dan mendapat legitimasi daripada para Wali/Sunan.


Mulailah muncul friksi antara umat Islam sendiri. Terutama sekali menyangkut faham kemurnian Islam dan fanatisme Jawa. Sejarawan barat menyebutnya sebagai Islam kejawen vs Islam Asketis.

Perbedaan ini muncul dari proses ber-islam. Masyarakat di pesisir Utara, yang berada dipusat perdagangan global, lebih terbuka untuk menerima Islam secara utuh dan meninggalkan segala adat-istiadat Jawa.

Islam di bandar-bandar pelabuhan menjadi semacam gaya hidup bagi kalangan menengah atas. Tidak hanya sekedar beralih agama, tapi juga bisa menaikkan status, menjadi tiket masuk ke “kasta” saudagar asing yang datang dari Turki, India dan China Muslim.

Sedang bagi kalangan bawah, kuli dan buruh. Masuk Islam berarti menaikkan kesejahteraan, karena bisa mengikatkan emosional dengan para majikan. Sedang kaum budak, masuk Islam berarti kebebasan, karena kuatnya desakan dari para wali/sunan untuk membebaskan budak sebagaimana tuntunan Sang Nabi.

Di wilayah Majapahit dulunya, pedalaman dan pesisir selatan jawa, komunitas Islam sudah ada di sejak Abad-14. Proses islamisasi berlangsung dengan adaptasi budaya, yang kemudian memunculkan Islam Kejawen. Secara agama mereka adalah muslim, tapi tetap mengamalkan adat istiadat jawa terutama yang dipengaruhi agama Hindu-Budha.

Tome Pires pada tahun 1515M mencatat tentang perilaku Islam Kejawen di Mataram sebagai berikut:

“Ada sekitar 50.000 pertapa di Jawa. Berpuasa, tidak minum tuak dan tidak kawin. Mereka memakai tutup kepala dan kadang ada logo bintang lima berwarna putih. Orang-orang ini juga disembah oleh orang Islam, dan mereka sangat percaya pada ramalan mereka. Memberinya sedekah, dan sangat gembira jika didatangi. Mereka berjalan berpasangan”

Setelah kematian Sultan Trenggana dan naiknya Arya Penangsang yang diiring perang saudara, Demak berangsur runtuh digantikan oleh Kerajaan Pajang yang didirikan oleh Joko Tingkir Hadiwijaya. Inilah awal mulai perang saudara diantara Orang Islam, friksi budaya dan “bid’ah” yang berujung serangan militer terhadap kaum Islam yang menolak ajaran Jawa.

Bibit perpecahan terjadi dikalangan para wali, tentang perlu tidaknya melestarikan kebudayaan Jawa dengan adopsi modifikasi Islam. Perpecahan mulai menjadi arena pertempuran ketika kepentingan politik untuk memperebutkan tahta turut campur.

Perbedaan faham di dalam agama dibumbui konflik politik keluarga kerajaan demi kekuasaan. Konflik dimulai ketika Sultan Trenggana naik tahta dengan membunuh saudara tirinya Pangeran Surowiyoto. Saat Trenggana mati digantikan anaknya, Sunan Prawoto. Prawoto sendiri akhirnya dibunuh oleh Arya Penangsang anak Surowiyoto sebagai balas dendam dan merebut lagi tahta Demak.

Kisruh keluarga ini dimanfaatkan oleh Hadiwijaya atau Joko Tingkir Adipati Pajang. Dia menyerbu Demak, menghancurkanya lalu mendirikan kerajaan baru, Pajang. Joko Tingkir adalah putra dari Ki Ageng Pengging, adipati Hindu yang ditaklukan lalu dibunuh oleh Demak. Joko Tingkir membawa ibukota menjauh dari pesisir pantai utara ke pedalaman Jawa. Berupaya menghidupkan lagi budaya Jawa menjauh dari pengaruh asing di pesisir utara.

Setelah Joko Tingkir mati, Kerajaan Pajang tak bertahan lama karena digusur oleh Kekuatan Mataram di bawah kekuasaan Sutawijaya atau Panembahan Senopati. Ibukota Kerajaan Jawa makin mendekati pantai selatan, dan dimulailah lahirnya Islam Kejawen ala Mataram.

Dasar-dasar kejawen dan upaya pemaksaan penggabungan Islam dan Kejawen dilakukan oleh Raja Mataram ke-tiga atau cucu dari Sutawijaya, Yaitu Sultan Agung.

Sultan Agung menyerang setiap wilayah di Jawa yang tidak sepaham dengan Islam Kejawenya.
Peta serangan Sultan Agung pada wilayah-wilayah yang dikuasai Islam Asketis untuk diganti menjadi Islam Kejawen. Setelah berhasil, Sultan Agung juga berusaha menyerang Batavia yang baru saja berdiri namun gagal.
Sumber Gambar: Wikipedia


Setelah dengan menghancurkan benteng terakhir Islam asketis di Jawa Tengah, Tembayat. Sultan Agung lalu menaklukan daerah-daerah pesisir pantai utara Jawa yang masih dipimpin oleh seorang Sunan dan menjalankan praktek Islam Asketis atau Islam Puritan tanpa budaya Jawa.

Berturut-turut dia melancarkan serangan ke Madiun, Surabaya, Lumajang dan terakhir adalah wilayah Giri Kedaton, benteng terakhir Islam asketis yang sangat kuat. Setelah menghancurkan Giri Kedaton, dia mencoba menarik simpati dengan mengawinkan Putra Mahkota Kedaton Giri dengan putrinya demi pada 1636M

Selain usaha militer, demi terbangunya suatu sintesis yang efektif antara tradisi jawa, Islam dan kultus raja. Sultan Agung juga membuat kalender Jawa yang dimulai dari tahun 78M, lalu mengadakan ritual seperti, grebeg suro, grebeg maulid, dll Termasuk juga menanam kisah mistis tentang kekuatan Laut Kidul dibandingkan Laut Utara.

Dia pun kemudian membangun makam-makam Sunan sebagai tempat ziarah, mengarang kisah penuh mitos sebagai bentuk penaklukan kultural.

Pelan tapi pasti hingga terjadi percampuran budaya Jawa dan Islam yang disebut Islam Kejawen.

0 Response to "Jawanisasi Berdarah Oleh Sultan Agung"

Posting Komentar